Refleksi dari Percakapan Mas Eim dan Hikmah: Belajar Tata Kelola Umrah dan Haji dari Rayap

Tulisan ini bermula dari percakapan sederhana melalui WhatsApp dengan sahabat saya, Mas Eim, dan istrinya, Hikmah. Suatu ketika saya mengirim pesan kepada Hikmah untuk menanyakan kabar. Ia menjawab singkat bahwa Mas Eim sedang sibuk membersihkan rayap di rumah mereka.

Jawaban yang sederhana itu langsung memancing respons ringan dari saya. Saya pun berkelakar, “Makhluk Tuhan yang satu ini memang menjengkelkan. Saya benar-benar tidak suka rayap.” Hikmah pun menanggapi santai. Namun dari percakapan kecil itu justru muncul satu refleksi yang menarik: jika rayap adalah makhluk ciptaan Tuhan, tentu ada hikmahnya. Lalu apa pelajaran yang bisa diambil dari makhluk kecil yang sering kita anggap hanya sebagai perusak?

Rayap memiliki cara kerja yang unik. Ia tidak merusak sesuatu secara tiba-tiba. Rayap bekerja perlahan, diam-diam, dan sering kali tidak terlihat. Dari luar, kayu atau bangunan tampak masih baik-baik saja. Namun di bagian dalam, seratnya telah digerogoti sedikit demi sedikit. Ketika kerusakan itu akhirnya terlihat, biasanya kondisinya sudah cukup parah.

Fenomena ini mengingatkan pada banyak hal dalam kehidupan, termasuk dalam tata kelola penyelenggaraan umrah dan haji. Dalam sektor ini, sistem sering tampak berjalan baik dari luar.

Regulasi tersedia, perusahaan travel banyak, dan pelayanan kepada jamaah terlihat tertata. Namun jika di dalam sistem mulai muncul celah-celah kecil yang tidak diawasi dengan baik, maka perlahan masalah dapat muncul.

Dalam tata kelola travel umrah dan haji, “rayap-rayap kecil” itu bisa muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya administrasi yang tidak tertib, pengelolaan dana jamaah yang tidak disiplin, standar pelayanan yang tidak dijaga secara konsisten, atau komunikasi kepada jamaah yang kurang transparan. Pada awalnya hal-hal ini mungkin terlihat kecil. Tetapi jika dibiarkan, ia dapat menggerogoti kepercayaan jamaah yang sebenarnya merupakan fondasi utama dalam industri ini.

Contoh konkret dapat dilihat dalam pengelolaan dana jamaah. Dalam bisnis perjalanan umrah dan haji, dana yang diserahkan jamaah bukan sekadar transaksi bisnis, tetapi amanah. Jika pengelola travel tidak memiliki sistem keuangan yang sehat—misalnya menggunakan dana jamaah untuk menutup kebutuhan lain tanpa perencanaan yang matang—maka perlahan kondisi perusahaan bisa menjadi tidak stabil. Dari luar perusahaan masih tampak berjalan, tetapi di dalamnya sistem sudah mulai rapuh.

Contoh lain adalah soal perencanaan paket perjalanan. Ada travel yang dalam persaingan pasar menawarkan harga yang terlalu murah tanpa perhitungan biaya yang realistis. Dalam jangka pendek strategi ini mungkin menarik minat jamaah, tetapi dalam jangka panjang bisa menjadi masalah. Ketika biaya operasional tidak seimbang dengan harga paket yang dijual, perusahaan akan kesulitan memenuhi standar pelayanan yang dijanjikan.

Masalah juga dapat muncul pada tahap pelayanan jamaah. Misalnya kurangnya pembinaan manasik, informasi yang tidak jelas terkait jadwal perjalanan, atau koordinasi yang kurang baik antara kantor travel dengan tim di lapangan. Hal-hal ini mungkin terlihat kecil, tetapi jika terjadi berulang kali dapat menurunkan kualitas pelayanan dan merusak reputasi penyelenggara.

Padahal penyelenggaraan umrah dan haji bukan sekadar industri perjalanan biasa. Ia berkaitan dengan ibadah, kepercayaan, dan harapan spiritual umat. Karena itu tata kelola travel umrah dan haji harus dibangun dengan prinsip amanah, profesionalitas, dan transparansi.

Rayap juga mengajarkan bahwa kerusakan sering dimulai dari celah kecil. Biasanya rayap masuk melalui kayu yang lembap, retakan kecil, atau bagian yang tidak terawat. Begitu celah itu terbuka, mereka berkembang dengan cepat.

Begitu pula dalam tata kelola umrah dan haji. Ketika standar operasional tidak dijaga, ketika pengawasan internal lemah, atau ketika komunikasi antara regulator dan pelaku usaha tidak berjalan dengan baik, maka sistem akan mudah dimasuki berbagai persoalan.

Percakapan sederhana di WhatsApp dengan Hikmah tentang Mas Eim yang sedang membersihkan rayap akhirnya membawa refleksi yang cukup luas. Rayap yang awalnya hanya menjadi bahan candaan ternyata dapat menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga sistem dari dalam.

Penyelenggaraan umrah dan haji membutuhkan tata kelola yang kuat dan berkelanjutan. Regulasi harus jelas, pengawasan harus berjalan efektif, dan pelaku usaha harus menjaga integritas dalam mengelola amanah jamaah.

Mungkin rayap memang makhluk kecil yang sering membuat kita kesal. Tetapi dari makhluk kecil ini kita bisa belajar satu hal penting: sesuatu yang terlihat kuat dari luar bisa saja rapuh di dalam jika tidak dijaga dengan baik. Dalam dunia penyelenggaraan umrah dan haji, menjaga fondasi sistem jauh lebih penting daripada sekadar menampilkan kemegahan dari luar.

TENTANG PENULIS
Dr. H. Abdillah, Lc., M.H.I., merupakan akademisi, peneliti, dan praktisi di bidang syariah Islam serta pengelolaan haji dan umrah. Ia mengajar di IAIN Parepare, serta menjabat sebagai Direktur Utama PT Asia Iman Wisata. Lulusan Universitas Al-Azhar Kairo ini aktif dalam riset, pelatihan, dan pengembangan kelembagaan haji–umrah. Melalui karya dan pengabdiannya, ia berupaya menjembatani kajian akademik dengan praktik layanan keagamaan yang profesional, berintegritas, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like these